Friday, September 28, 2007

Rembulan di Langit Kairo

Wajah pasi Nayla menebar di seluruh ruang imajinasiku. Entah sedang apa Nayla saat ini. Merintih sakit? Dibujuk makan bubur putih? Ataukah sedang memikirkanku juga? Tidak Nayla. Maafkan aku. Jika dulu-dulu aku sering merasa ingin selalu ada dalam pikiranmu. Tapi tidak untuk saat kau sakit sekarang. Aku ingin kau lebih banyak bermunajat. Tidak rewel saat minum obat. Banyak melafalkan dzikir sebagai obat supaya sakitmu lekas sembuh. Kau harus tahu Nayla, sekarang Aku lebih rajin menghafal Al-Quran supaya lekas khatam, supaya bisa menemuimu dan diberkahi oleh-Nya.

Aku menyadari kebodohanku. Aku salah satu dari daftar ikhwan egois yang hanya memikirkan kepentingan pribadi tanpa mau memikirkan orang lain. Baru saat kekasih sakit aku menyadari kekeliruanku. Nayla mengharamkan bertemu lagi denganku. Padahal ia sedang sakit parah. Aku ingin memberikan kekuatan padanya. Ia mengajukan satu syarat; mau bertemu denganku setelah aku fasih dan hafal al-Quran 30 juz. Untuk menebus kesalahanku pada Nayla, aku habiskan waktuku dengan mempelajari dan menekuni ayat-ayat Allah.

Suatu hari aku pernah bercerita pada Nayla bahwa nilai hafalan Al-Quranku sangat rendah. Aku lebih asyik diskusi soal artis cantik dan gadis-gadis Mesir yang bertelanjang. Lebih asyik bercerita pemain-pemain sepak bola dunia. Syekh Qordawi sering menegurku. Nayla pun tak luput mengultimatumku. Semula aku benci dengan persyaratan yang diajukan oleh kekasihku, Nayla. Ia sebagai akhwat terlalu mengaturku. Harusnya sebaliknya, aku sebagai ikhwan yang lebih layak mengaturnya? Tapi, keadaan berubah. Sebulan kemudian Nayla jatuh sakit. Aku tersiksa dan tertekan. Menjadi Ikhwan tak berguna.

Usai shalat Ashar aku harus ke Husein, di tempat Masjid Al-Azhar untuk talaqqi Qur’an kepada Syekh Qordhawi. Tidak boleh terlambat. Harus sampai di sana tepat Pukul 04:00 waktu Kairo. Kusiapkan mushaf kecil, buku catatan, pensil, serta novel kesayanganku, karya Naguib Mahfouz (Lorong Midaq) ke dalam tas. Satu yang tidak kuikutsertakan ke dalamnya, yaitu; Ponsel. Benda itu kumasukkan ke saku celana supaya aman. Di negeri ini banyak pencopet yang berkeliaran. Di bis, di pasar, di terminal, dan di tempat ramai lainnya. Kubiasakan berdoa sebelum meninggalkan rumah agar perjalananku mendapat perlindungan dari-Nya.

Syekh Qordhawi sudah menungguku sejak tadi. Aku terlambat 30 menit. Perempatan Rob’ah macet total. Bis yang kunaiki terhambat di tengah jalan. Para sopir saling memaki. Suara mereka dan bunyi klakson sangat bising. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari MP3 yang kubawa cukup bisa mengusir kegaduhan itu. Hafalanku pun jadi lebih fasih.

Sesampainya di sana, seperti biasa, sebelum memulai talaqqi, Syekh Qordhawi menanyakan tentang kesiapanku. Beliau akan memulai bila hafalanku benar-benar di luar kepala. Hatiku sempat membatin, Syekh Qordhawi tak ubahnya seperti Nayla. Hafalanku tidak boleh tersendat-sendat. Tidak boleh putus-putus. Harus lancar dan sesuai dengan tata cara pembacaan Al-Qur’an yang benar. Begitu aku bilang siap, beliau memberiku isyarat dan memulai dengan membaca Basmallah.

Aku sukses mempraktekkan hafalan Qur’an sebanyak 3 Juz. Aku merasa lega dan Syekh Qordhawi juga tersenyum bangga padaku. Tinggal 27 Juz harus kuhafal sekaligus kuamalkan. Aku pamitan pada beliau. Pulang menuju rumah di Hay ‘Asyir. Kuperkirakan, waktu Maghrib aku sampai di Bawwabah. Sesampainya di sana nanti, aku tidak akan langsung menuju rumah melainkan mampir dulu di Masjid As-Salam. Di sana aku bisa shalat Maghrib sekalian melanjutkan hafalan Al-Qur’an.

Pesona rembulan tampak di langit Kairo. Kemilau sinarnya putih membiasi awan. Kerlap-kerlip sang bintang berpijar seperti kunang-kunang. "Indah..." Gumamku ketika muka tengadah ke atas. Namun keindahan itu tak lama tertindih oleh wajah Nayla yang sedang terbaring pasi di tempatnya. Aku ingin sekali ke sana menjenguknya. Tapi syarat yang diajukan Nayla belum bisa kupenuhi. Aku baru hafal 3 juz. Sedangkan yang diinginkan Nayla 30 Juz. Satu hal yang membuatku terlecut saat Nayla bilang; “sampai mati pun jika kau belum hafal Al-Quran 30 juz, maka aku tak akan mengijinkan dirimu menemuiku.” Bukan sekedar gertak. Hal itu harus menjadi komitmen antara aku dan dia.

Di bus, di kereta, di tikungan jalan, di perempatan jalan, di mana-mana mulutku tiada henti melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Tak terasa aku sampai di depan pintu rumah tepat jam 19:20 malam. Kupuaskan diri memandang wajah sang rembulan sebelum memasuki rumah. Bias sinarnya menyejukkan palung hati. Sementara udara malam membelai tubuhku dengan mesra. "Nikmat sekali..." Gumamku lagi.

Cukup lama aku mematung, tiba-tiba nada pesan ponselku berbunyi di saku celana. Kuambil, kemudian kubuka sms yang masuk, dan kubaca. Tidak sampai selesai pesan itu kubaca, aku spontan berlari masuk rumah. Di atas, kuambil jaket dan sedikit sisa uang bayar sewa rumah.

“Saiful, mau kemana lagi. Baru saja masuk, dah mau ngeloyor lagi?” Romli menyembul dari kamar dengan raut muka keheranan melihatku yang hendak menutup pintu. Dan, ia segara datang menghampiriku.

“Ehm, kamu Rom. Gak ada apa-apa kok! Hanya ingin keluar saja.” Sahutku.

“Oh, tak biasanya kamu begitu?” Jawabnya selidik.

Aku tak mempedulikannya.

“Udah makan belum? Kalau belum, makan dulu sana. Udah aku sisain tuh!” Jemarinya menunjuk meja makan.

“Makasih, Rom. Aku masih kenyang nih! Berangkat dulu ya...” Aku bergegas pergi. Setengah berlari. Tanpa menunggu jawaban darinya, aku menuruni tangga.

“Ful, hati-hati.” Romli berteriak mengingatkanku.

Cesss...! Perhatian Romli bagai tetesan embun malam. Romli satu-satunya temanku yang baik hati. Kebetulan kami sama-sama berasal dari Sumenep, Madura. Perhatian Romli membuatku merasa bersalah telah membohongi dirinya. Menyembunyikan sesuatu yang semestinya aku ceritakan. Apalagi aku hidup serumah dengannya. Sebagai seorang sahabat yang baik tidak seharusnya aku menutup-nutupi penyakit yang menimpa kekasihku, Nayla. Inikah makna persahabatan itu? Entahlah, hanya lambaian tangan inilah yang mengisyaratkan rasa terima kasihku yang mendalam. Semoga kebaikannya mendapat balasan yang mulia dari-Nya. Doaku kemudian dalam hati.

Jalan setapak kulalui, gang-gang kulewati. Malam ini rembulan bersinar penuh di langit Kairo. Jalan setapak dan gang-gang tampak sepi, tak ada satupun orang berkeliaran. Malam ini tampak lain dari biasanya. Para perampok, penyamun, dan orang-orang berkulit hitam tidak lagi melakukan aksinya. Mungkin mereka larut menikmati indahnya bulan di langit Kairo. Atau mungkin juga mereka ikut berpesta-fora bersama para gelandangan, anak-anak jalanan, serta penduduk sekitar. Menyanyikan lagu dan tari-tarian khas Mesir-an. Ah, ternyata pesona rembulan mampu mengetuk pintu hati manusia. Yang jahat menjadi baik. Yang baik bertambah baik? Hem, Indahnya...!

*@*

Di persimpangan jalan rumah megah itu sudah kelihatan. Sebentar lagi aku akan sampai di rumah Nayla. Kupercepat langkah kaki, hingga berlari. Risaunya pikiran masih mengusik ketentraman yang baru kurasakan. Pesan itu terus memburu jejak kakiku agar cepat sampai di sana.

Nayla gadis berdarah Kairo - Indonesia. Ayahnya dari Indonesia dan Ibunya campuran Kairo - Turki. Aku mengenalnya setahun lalu. Waktu itu aku sangat terburu-buru hendak pergi ke kampus. Sesampainya di tikungan jalan, secara tak sengaja aku menabraknya. Aku pun tidak tahu, tiba-tiba saja ia menyembul di depanku. Buah orange yang dibawanya berjatuhan. Ada yang menggelinding ke tengah jalan, dan sebuah mobil hampir saja menggilasnya. Untung aku cekatan. Terlambat satu menit saja barangkali tubuhku yang akan tergilas mobil.

Kulihat, ia menangis. Aku panik, sementara harus cepat-cepat sampai di kampus, ia menangis sambil memunguti barangnya yang berjatuhan. Tangisnya kini semakin keras. Rasa bersalah pun membuncah dalam dada. Akhirnya, aku membujuknya supaya idtak menangis. Tapi ia tetap menangis. Buah orange itu kukumpulkan dalam satu plastik berwarna putih. Kuserahkan kepadanya. Eh, tangisnya agak reda. Aku tersenyum.

“Maaf,” sapaku kemudian. “Aku Saiful,” kuserahkan kartu namaku. Tak lama, aku langsung bergegas pergi setelah mendapatkan nama dan nomor telepon darinya. Nayla, itulah nama yang tersimpan dalam otakku saat itu. Seminggu kemudian, aku diundang datang makan malam oleh kedua orang tuanya. Aku pun tak menolak ajakan itu. Aku sudah siap misal harus dimarahi karena telah menabrak anak gadisnya. Diluar dugaanku, ternyata Ayah Nayla sangat baik hati. Ia banyak bercerita tentang masa mudanya.

Dari situlah terbangun ikatan emosional antara aku dan Ayah Nayla. Ringkas cerita, kedua orang tua Nayla menjodohkan aku dengannya. Nayla pun mengiyakan. Hatiku tambah berbinar karena sejak pertemuan pertama aku tak bisa menghindari makluk sempurna ciptaan Allah itu. Hanya saja untuk segera menikahi Nayla, aku menawarkan supaya aku lulus dulu dari Al-azhar. Mendapat gelar Lc. Dan, ia juga menawarkan agar aku hafal semua ayat-ayat Al-Qur’an dengan fasih. Kesepakatanpun terikat menjadi tali kasih abadi.

Kini, aku terpaku setelah sampai di halaman depan rumah Nayla. Tanganku nyaris memencet tombol bel, namun kuurungkan. Aku ingat komitmen kami. Hafalan Al-Qur’anku belum genap 30 juz. Sejenak aku mematung di tempat itu. Namun tiba-tiba aku disentakkan oleh suara adzan Isya’ yang berkumandang dengan lembut nan syahdu. Takbir dan tahmid menusuk lubuk hatiku. Sebuah energi menelusup ke jiwaku. Rasa tenang. Damai. Teduh. Sinar rembulan menerpa wajahku. Kuurungkan menemui Nayla.

Dengan langkah cepat aku menuju masjid terdekat. Bergegas menuju Hammam mengambil air wudhu. Jangan sampai ketinggalan berjama’ah. Masjid tampak penuh. Para jema’ah menunggu Imam Masjid. Dari sudut ruangan, Imam Masjid keluar dengan jubah putih dan sorban merah. Jenggot dan rambutnya yang putih menandakan orang tua itu sudah berumur tujuh puluhan tahun. Namun wajahnya masih tampak berseri. Serentak para jema’ah berjajar rapat. Membentuk shaf. Salah satu di antaranya ada yang beriqomat. Shalat Isya’ pun dimulai. Aku berada di shaf ketiga.

Busyet, aku lupa mematikan HP atau sekedar menggetarkan nada deringnya saja. Ah, biarkan saja deh! Tidak mungkin ada yang nelpon. Bisikku. Kubiarkan HP dalam saku celana. Kemudian aku bertakbir; Allahu Akbar... Pada raka’at keempat nada panggilan tiba-tiba berbunyi. Aku tersentak, kubiarkan begitu saja.

Usai shalat, kulihat misscall di HPku. Penelponnya sama dengan yang tadi mengirim sms padaku. Saat itu juga perasaanku kembali kacau. Pikiran terus berkecamuk. Ada apa gerangan malam ini? Tanyaku dalam hati. Kenapa orang itu terus menghubungiku. Jangan-jangan...? Aku bermain dengan pikiranku sendiri. Aku bergegas keluar dari masjid. Kupercepat langkah kaki. Hingga berlari. Orang-orang Mesir melihatku keheranan. Namun tidak kupedulikan keadaan di sekitar. Aku ingin cepat-cepat sampai di rumah Nayla. Perasaanku tiba-tiba berkecamuk. Seperti terjadi sesuatu pada Nayla. Bukankah Nayla sedang sakit parah. Apalagi orang itu sudah beberapa kali mencoba menghubungiku.

“Sampai aku mati pun jangan sesekali mengunjungiku jika hafalan Al-Qur’anmu belum tuntas 30 juz!” Suara Nayla kembali terngiang-ngiang ditelingaku. Ya Robb, mengapa suara itu yang harus menghantuiku di saat aku mengkhawatirkan kondisinya? Aku marah. Ya. Marah pada diriku sendiri.

Dari seberang jalan aku melihat ambulan berada di depan rumah Nayla. Di sekelilingnya banyak orang-orang Indonesia dengan wajah sedih. Sepertinya telah terjadi sesuatu di rumah itu. Benarkah Nayla...? Tidak!!! Pekikku dalam hati. Aku ingin bertemu denganmu, melantunkan hafalan Al-Quran 30 Juz itu, lalu meminangmu. Tunggulah aku, Nayla. Jangan secepat itu kau pergi. Rengekku dalam hati. Tak terasa wajahku bersimbah air mata. Mulutku seakan tercekat.

Di bawah sinar lampu neon tampak sosok Romli berdiri di depan pintu rumah Nayla. Wajah yang biasanya ceria tampak sekali murung. Apa yang terjadi, Ya Allah? Benarkah Nayla...?! Kupercepat langkah kaki, hingga berlari. Dan sampailah aku di halaman depan rumahnya.

Romli datang menghampiriku. Rupanya ia melihat kehadiranku. Ia mendekat ke arahku. Kemudian berbisik lirih, “Ful, kamu tenang ya. Dan tabahkan hatimu. Nayla...., Nayla....” Belum selesai bicara dia menangis dan memelukku.

“Eh, ada apa ini. Mulai sejak kapan kamu jadi cengeng seperti ini?” Tanyaku dengan nada tinggi. Semua orang yang berada di tempat itu pada menatapku iba. Romli bermaksud menuntunku masuk. Tapi aku menggeleng dan bergeming di tempatku.

“Mas Saiful, Nayla sudah...” Salah satu dari sekian temanku yang ada di situ tiba-tiba menyembul dan bermaksud memberitahuku, tapi suara itu terpotong.

“Heiii... Diam kamu!” Bentak Romli pada teman yang hendak memberitahuku. Dia pun tidak berani meneruskan kata-katanya. Dan mundur ketakutan melihat wajah Romli yang naik darah.

“Ful, sahabatku yang terbaik,” kini beralih kepadaku dengan nada suaranya yang pelan dan lembut. “Sabar ya... Nayla..., Nayla..., ia telah berpulang ke Rahmatullah. Tadi selepas adzan Isya’ meninggal dunia. Katanya kamu sudah ditelpon oleh teman dekatnya, tapi gak ada jawaban.” Tangan kekar Romli merengkuh pundakku. “Aku dan semua teman-teman di sini ikut berduka cita atas kepergian kekasihmu, Nayla.” Ungkapnya penuh perhatian. “Ayolah, kita masuk!” Ajaknya kemudian.

Namun, aku tetap bertahan di posisiku berdiri. Romli semakin aneh dengan sikapku. “Apa kamu tak ingin melihat Nayla untuk terakhir kalinya?” Romli jengkel rupanya melihat ulahku itu.

Aku menggeleng. Tetap bersikukuh di tempatku, bahkan aku berusaha pergi meninggalkan rumah Nayla. Tapi Romli menahan dengan menarik lengan kananku dengan keras.

“Apa-apaan kamu ini, Ful? Masa kamu gak ingin takziah jenazah Nayla? Apa kamu sudah edan? Apa kata orang melihatmu datang tanpa mau masuk ke rumah dan ketemu dengan Nayla?” Romli berkata dengan berapi-api. Bola matanya membesar.

Pikiranku sudah mengembara, entah kemana... Aku seolah tidak sedang berada di depan rumah Nayla. Sungguh, aku ingin sekali duduk di samping jenazah Nayla. Berdoa untuknya saat ini. Tapi aku masih punya janji yang belum terlunasi. Aku benar-benar pergi. Romli geleng-geleng kepala seraya menjejeri langkahku. Dia tak mengerti dengan sikapku. Orang-orang di sekitarku juga terasa aneh menatapku. Romli masih berusaha membujukku supaya aku masuk melihat jenazah Nayla untuk yang terakhir kalinya.

Di atas langit bulan cantik menjelma petir, luluh-lantakan batinku, membakar hangus jiwaku. Jika boleh memilih, aku pilih tak percaya dengan apa yang kulihat. Nayla tidak mungkin pergi secepat itu. Dia pasti menungguku, datang dengan hafalan murottal 30 juz. Aku yakin Nayla masih hidup. Aku berbisik pada sahabatku itu, ”Rom, aku akan bertemu dengannya di surga kelak. Percayalah, aku mencintainya seperti aku mencintai Pencipta Rembulan yang sedang pasi tertindih awan itu.” Wajahku tengadah ke langit. Romli mendesah-esah. Nafasnya terasa berat berhembus. Dia membiarkanku pergi setelah menepuk pundak kananku.

Baru beberapa langkah aku pergi, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara orang-orang yang membacakan kalimat-kalimat tauhid. Terkejut, tersentak. Berbaur dalam pikiranku. Dan kalimat itu...

Kepalaku reflek menoleh ke belakang. Dari dalam rumah Nayla muncul beberapa orang memikul keranda. Di barisan depan orang yang membawa ambulan dan teman-temanku dari Malaysia berada di barisan paling belakang. Romli bergabung dengan mereka. Saat itu juga aku terpengarah, bola mataku terbelalak, nafasku naik turun, dadaku berdegub tak teratur, pikiranku sesak, kedua kakiku kaku. Aku seakan menjadi orang yang tak berguna. Semua kekuatan dalam tubuhku runtuh. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa itu bukan keranda Nayla. Mungkin karena di situ tidak kutemukan kedua orang tua Nayla. Keluarganya pun tidak ada di antaranya. “Ach, itu bukan keranda Nayla.” Yakinku.

Aku hendak berpaling dari tempat itu, tetapi si Nesha, teman karib Nayla berjalan ke arahku. Seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padaku. Dan, ternyata benar. Ia berkata kepadaku.

“Mas Saiful, sms saya tadi masuk kan? Telponku kenapa tidak diangkat?” Ya Allah... Ternyata Nesha yang mengirim sms dan hendak menelponku. Berarti di dalam keranda itu... Tiba-tiba kekawatiran kembali menyeruak dalam pikiranku. Mengguncang. Mengacaukan. Pusing... Bumi berputar kencang di bawah kakiku.

Entahlah, biasanya aku tidak berani menyentuh wanita yang bukan muhrimku. Tapi saat ini, tanpa sadar kedua tanganku telah mendekap pundak Nesha. “Ada apa dengan kekasihku, Nesha? Apa yang sedang terjadi padanya? Apa benar dalam keranda itu...” Suaraku tercekat dalam tenggorokan. Aku tak sanggup meneruskan kalimat tersebut. Mukaku tertunduk lemas di hadapan gadis berdarah Banten itu.

Namun Nesha tak bergeming melihat kondisiku. Malah ia berkata dengan nada marah. “Kenapa tadi kamu tak masuk melihat Nayla? Apa kamu sudah gila, hingga di saat-saat detik seperti kamu tak mau melihatnya lagi? Mana tanggung jawab kamu?”

Mendengar ungkapan itu kedua tanganku lepas dari pundaknya. Hatiku perih. Air mata mengalir deras membasahi pipiku. Jiwaku terkoyak. bBatinku tenggelam dalam tangis. Tenggelam dalam bisu. Mataku tak sanggup memandang keranda itu lagi. Aku memalingkan wajahku. Nayla pasti tidak menyukai kehadiranku di sini.

Nesha berkata lagi padaku, “Mas Saiful, sebelum meninggal Nayla menitipkan amplop kecil ini padaku.” Ia menyerahkan sebuah amplop kecil yang baru saja dikeluarkan dari saku busana muslimnya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkanku. Itu yang lebih baik untukku. Aku sedang ingin menyendiri. Kupandangi surat kecil itu. Tanganku gemetar.

Aa’, sungguh Nayla merasa menyaksikan bunga-bunga bermekaran di sebuah taman. Pelangi membentang di atasnya. Banyak kupu-kupu berlarian saling berkejaran. Nayla ingin segera berada di sana. Bermain dengan kupu-kupu itu. Nayla lelah berada di tempat yang sangat gersang ini.
Aa’, jangan berhenti menghafal dan mengamalkan Al-Qurannya ya... Karena itu adalah kunci kita kelak bertemu di taman yang indah itu. Nayla tunggu Aa’ di sana. Aa’, jangan bersedih. Nanti Nayla malah nangis lagi. Masih ingatkan, ketika kita baru pertama kali bertemu. Bagaimana Nayla menangis sesenggukan di hadapan Aa’ waktu itu. Hihihi... Jadi malu!
Pesan terakhir Nayla pada Aa’ adalah perbanyaklah ibadah. Jangan malas-malasan. Karena setiap yang ada akan tiada. Dunia ini tak ada yang kekal abadi. Sekarang, ikhlaskan kepergian Nayla ya... Aa’ harus sabar, tabah, dan banyak berdoa untuk Nayla. Biar Nayla bisa tenang bercanda dengan kupu-kupu di taman itu.

Salam Purnama...
Ttd: Kekasihmu, Nayla.

Mukaku tengadah ke langit. Bulan pucat terkurung awan. Nayla seolah berpuisi di antara lekukannya. Menabur senyum kearahku. Kupahatkan janji padanya; Aku pasti menjumpaimu, duhai kekasihku. Dengan 30 juz bunga kehidupan. Aku akan memetiknya untuk Nayla. Dan, Yang Menguasai langit Kairo semoga memberiku secawan cinta-Nya.


Rabea El-Adawea, 04 Maret 2007

Keterangan:

·Talaqqi : Memperaktekkan hafalan Al-Qur’an.

·Husein : Adalah pusat perbelanjaan orang-orang manca negara.

·Rob’ah : Nama Robi’ah Al-Adawiyah dijadikan nama daerah.

·Hay ‘Asyir : Daerah yang banyak ditempati oleh orang-orang Indonesia.

·Bawwabah : Sebuah tempat yang letaknya berada di kawasan Hay ‘Asyir.

·Hammam : Kamar mandi. Orang-orang Mesir nyebutnya demikian.

·Negeri Kinanah : Julukan negara Mesir. Seperti; Negri Seribu Menara, dll.

·Masjid Al-Azhar : Masjid pertama yang didirikan oleh Universitas Al-Azhar.

·Masjid As-Salam : Masjid yang sering ditempati oleh orang2 Indonesia.

1 comment:

satu said...

Novel “rembulan di langit hatiku” telah terbit lho,
coba kunjungi: danisetiawan.multiply.com
…. berikut sedikit sinopsisnya:

“….. berkenankah engkau menjadi rembulan di langit hatiku? hati yang merindukan lembut cahayanya? Berkenankah engkau menjadi Aisyah-ku? seperti kehadiran Aisyah r.a. dalam kehidupan Nabi Saw.? Berkenankah engkau ….. menjadi istriku?

Bidadari itu terdiam mendengar apa yang kukatakan. Ia tak berucap meski hanya sepatah kata, pandangannya menerawang angkasa. Sejenak kemudian ia menatap mataku, lalu ia alihkan pandangannya ke pepohonan yang tumbuh di sekeliling kami. Air mata … mengalir lembut … lembut sekali … di pipinya.

————————————————-

Novel romantis ini berkisah tentang sebuah perjuangan, untuk mewujudkan cinta sejati. Cinta yang tak hanya berjalan sendiri, … tetapi menyelaraskan kehadirannya bersama percikan-percikan akal, dan getar-getar nurani.

Bila cinta itu telah datang, … adakah seorang yang bisa bersembunyi dari pesona yang dibawanya?

Bila kerinduan itu telah tiba, … adakah seorang yang bisa mengelak dari kehadirannya?

=======================================================

Profil Penulis
Dani Setiawan (Dan’s) menjalani masa-masa sekolahnya di Bandung. Setelah lulus dari SMAN 2 Bandung, ia melanjutkan S1 di ITB, lulus dengan predikat “sangat memuaskan”. Setelah merasakan atmosfer “kerja” di Jakarta dan Bogor, ia kemudian melanjutkan S2 di ITB, lulus akhir tahun 2006. Pada tahun 2003, ia sempat mempublikasikan syair-syair yang pernah dibuatnya, dalam sebuah album-musik indie “Seismic, terlabuhkan/rumahku surgaku”. Hobby menulis mulai tumbuh sejak ia masuk di sekolah menengah tingkat pertama. Novel ini adalah buku pertama yang dipublikasikannya. Novel ini sendiri terbit bersamaan dengan terbitnya album indie “Dan’s, rembulan di langit hatiku”

==================================================

Buku diterbitkan oleh: SATU LUBUK–Relung Hati

Distributor: KALAM 08156276264